Kisah Seorang Waliyah Besar dan Sayyid Muda – Perihal Mahabbah Kepada Rosul Allah SAW

Oleh: Sayyidil Walid al-Habib Rofiq al-Kaff

Syahdan hiduplah seorang Waliyah (wali Allah perempuan), yang sangat terkenal di zamannya dengan kecintaan beliau kepada Allah SWT.

Sekali waktu, beliau di tanya orang, “Apakah engkau mencintai Rosul Allah SAW, selain engkau juga cinta kepada Allah SWT..?”
Jawab beliau, “Hatiku sudah di penuhi cinta kepada-Nya dan tidak bisa mencintai selain-Nya.”

Malam beliau bermimpi, mendengar suara dari ‘Arsy, “Wahai Fulanah, engkau Kami cintai, tapi bukan engkau yang paling Kami cintai.” Continue reading

Advertisements

Kisah asy-Syaik Ali Barasy dan Sayyidina al-Imam al-Quthbul Anfas al-Habib Umar bin Abdurrahman al-‘Atthas

Mencintai Apa Yang Di Cintai-Nya Akan Menyampaikan Kita Kepada Cinta-Nya: Kisah asy-Syaikh ‘Ali Barasy dan Gurunya, Sayyidina al-Imam al-Quthbul Anfas al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas Ra (Shohibur Ratib al-‘Atthas, Huraidhah-Hadramaut.)

Oleh: Sayyidil Walid al-Habib Rofiq bin Luqman al-Kaff

al-Habib Umar al-‘Atthas RA berkata, “Siapapun yang mengirimkan Fatihah kepadaku tanpa menyebutkan Syekh Ali Barasy, fatihahnya tidak akan ku terima.” Ini karena sayangnya beliau kepada muridnya, Syekh Ali Barasy. Continue reading

Ketika Aku Jatuh Cinta

Cinta adalah sebuah Ni’mat, tapi jika di salahgunakan cinta bisa menjadi Niqmah (adzab). Tidak ada makhluq yang patut kita cintai lebih dari diri kita melebihi al-Musthafa, Shallallahu ‘Alaih Wa Sallam.

Banyak anak-anak muda yang teracuni oleh pemikiran-pemikiran yang ada di media elektronik, memberi suguhan agar mereka berkorban demi cinta walaupun pahit dan penuh rintangan, mengajarkan agar menjadi sang Pahlawan Cinta, sehingga para pemuda-pemudi melakukan apa yang mereka lihat dalam kehidupannya meskipun harus melakukan hal-hal yang haram, yang membuat mereka celaka dan hina nanti di Akhirat..!!

Kita kecurian kiblat.. Orang-orang mengalihkan kita dari Sang Nabi SAW dan Sayyidatuna Zahro’.. Kalau memang yang namanya kebahagian, ketentraman, keindahan, keharmonisan, keberuntungan ada di dalam cinta sebelum menikah, maka Demi Allah, pasti Allah akan cantumkan dalam Ayat-Ayat Suci-Nya. Pasti akan keluar dari kalam mutiara Sang Nabi SAW, pasti di ajarkan kepada Sang Zahro’..!!! Tapi mengapa tidak ada dalam sejarah Islam cinta di luar nikah…? Apakah Islam salah dan tak mengerti cinta..? Kalau bukan dari Islam, lalu dari mana sumbernya cinta..?

Tanyakan dan lihat kepada orang yang telah mendahului kita, yang dulunya mengaku cinta adalah segala-galanya..!! Apa yang mereka dapatkan dalam hidupnya..? Apa kekuatan cinta mereka kekal dan abadi..?
Laa.. Laa.. Laa.. Wa alf, laa.. Wallah..!! Tidak, Demi Allah…!!!

Allah menciptakan manusia dan Allah lebih tahu akan tentang cinta yang ada dalam hati manusia. Allah juga tahu bagaimana cara menaburkan benih-benih cinta agar tetap abadi.

Continue reading

Belajar dari Majelis Ta’lim – Kalam al-Habib Abu Bakar as-Seggaf Gresik

“Belajar dari Majelis Ta’lim”

al-Habib Abu Bakar as-Seggaf (Gresik) :

Anak-anak atau pemuda jika mereka hadir ke majelis-majelis seperti ini, mereka akan dapat melihat dan mengenal, yang ini orang yang beradab mendapatkan haknya di dalam majelis dan yang ini kurang adabnya.

Sebagai contoh: Jika orang ‘Alim masuk majelis mereka menempatkkannya di depan..!
Anak-anak akan bertanya, “Mengapa orang itu duduk di depan..?” Orang menjawab, “Karena dia orang ‘alim…!”
Kemudian masuk orang bodoh, dan duduk di akhir majelis.
Anak-anak bertanya, “Mengapa orang itu duduk di akhir majelis, tidak di suruh maju ke depan seperti orang tadi..? Bukankah dia sama besar bentuk tubuhnya…!!!?”
Orang akan menjawab, “Karena itu dia bodoh..”

– Dengan ini anak-anak atau pemuda akan tahu orang ‘alim serta tempatnya dan ini orang bodoh.
– Kemudian si anak akan memilih untuk dirinya.

Jika di antara kalian memiliki anak, perintahkan mereka agar menghadiri majelis-majelis seperti ini..! Agar mereka dapat melihat dan mencontoh, karena sebuah pandangan menyampaikan kepada hati dan juga agar mereka mengambil barokah dari mereka (Habib Abu Bakar mengisyaratkan dengan tangannya kepada para Habaib dan orang-orang tua yang hadir di majelis tersebut.)

Kemudian Habib Abu Bakar as-Seggaf berkata: Aku akan menceritakan kepada kalian, 10 tahun yang lalu setelah aku keluar dari rumah (keluar dari kamar kholwahnya) ku katakan, aku ingin melihat manusia dan ingin tahu bagaimana gambaran mereka seperti apa. Aku hadir di suatu majelis, aku temukan semua para hadirin menggunakan kopyah warna merah. Kemudian aku berdiri, aku berkata bahwa hawanya panas aku ingin keluar mencari angin. Aku bawa salah seorang dari mereka yang aku lihat berakal dan dewasa. Aku duduk lama dengannya, saling mengenalkan diri dan aku tanyakan dia, “Berapa anakmu..?”
Dia menjawab, “Empat”
Kemudian dia berkata, “Doakan aku dan keluargaku..!”
Aku menjawab, “Bagaimana aku mendoakanmu, sedang kamu dengan kopyah seperti ini..? Pasti anak-anakmu akan menirumu nanti..!”
Dia menengarkan kata-kataku dan keluar mengganti kopyahnya kemudian dia datang dan duduk di majelis dengan mengenakan kopyah Putih. Semua hadirin heran…??!!! Kemudian hari berikutnya aku hadir ke majelis tersebut, aku temukan semua para hadirin mengganti kopyah mereka. Mengapa..? Sedangkan aku tidak mengatakan apapun kepada mereka. Ini adalah berkah pandangan…!!! Karena dengan memandang, maka mereka mengetahui..!!

Sebagaimana kita katakan, pandangan dapat menyampaikan kepada hati, sedang hati adalah tempatnya niat.

Khususnya para anak-anak atau pemuda-pemuda yang tidak menuntut ilmu ke Hadramaut, agar mereka tahu dan mengenal serta melihat seperti majelis-majelis ini. Majelis yang seperti ini, adalah majelis kita, wahai Ahlul Bait, milik kakek dan para salaf kita…!!! Dan, keuntungannya akan berbuah nantinya. Karena setiap majelis yang khair (baik) akan membuahkan hasil tambang yang istimewa. Sebagaimana al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya) berkata :
Lihatlah..!!! Waktu yang sebentar ini bisa di dapatkan tapi tidak di jual belikan (waktu yang kalian habiskan di majelis seperti ini hanya sebentar, akan tetapi apa yang kalian dapatkan tidak bisa kalian beli atau di dapatkan kecuali di majelis ini)

Catatan Na’am Qolby Ma’ak

Manaqib al-Habib Ahmad bin Hasan al-‘Atthas – Mata Bathin Seorang Wali

al-Habib Ahmad bin Hasan al-‘Atthas

Seorang di antara sejumlah Waliyullah asal Hadramaut, Yaman, ialah al-Habib Ahmad bin Hasan al-‘Atthas. Ulama besar ini lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada hari Selasa 19 Ramadhan 1257 H/1837 M. Karamahnya yang sangat terkenal ialah, Beliau mampu melihat secara bathiniah, sementara penglihatan lahiriahnya tidak dapat melihat. Sejak masih dalam penyusuan ibundanya, beliau terserang penyakit mata yang sangat ganas sehingga buta.

Kemampuan itu Beliau miliki sejak masih kecil hingga berusia lanjut. Suatu hari beliau memenuhi undangan salah seorang santrinya di Mesir. Ketika sedang duduk bersama tuan rumah, tiba-tiba beliau meminta kepada salah seorang hadirin membuka salah satu jendela, karena semua jendela tertutup.
“Angin di luar sangat kencang” kata orang itu. Tapi Habib Ahmad tetap mendesak agar jendela di buka.[more]

Ternyata di bawah jendela itu anak sang tuan rumah tengah berjuang melawan maut, tercebur ke dalam kolam persis di bawah jendela. Tentu saja seluruh hadirin terutama tuan rumah panik. Kontan Habib Ahmad berseru agar orang-orang segera menyelamatkannya. Dan, alhamdulillah, akhirnya anak itu selamat. Itulah salah satu karomah Habib Ahmad bin Hasan al-‘Atthas, mampu melihat sesuatu yang terjadi dengan mata bathin, yang justru tidak terlihat oleh orang biasa.

Ketika masih dalam penyusuan ibundanya, beliau menderita sakit mata yang sangat ganas hingga buta. Ibundanya amat sedih, lalu membawa anaknya kepada al-Habib Shaleh bin ‘Abdullah al-‘Atthas, salah seorang ulama’ besar di zamannya. Sang ibu meletakkan bayi mungil itu di depannya lalu menangis,
“Apa yang dapat kami perbuat dengan anak buta kami..?”

Habib Shaleh pun segera menggendong bayi itu lalu memandanginya dengan tajam. Setelah berdoa, tak lama kemudian beliau berkata,
“Anak ini akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Masyarakat akan berjalan di bawah naungan dan keberkahannya. Ia akan mencapai maqom kakeknya, Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas.”

Mendengar kata-kata yang menyejukkan itu, sang ibu terhibur. Maka sejak itu Habib Ahmad yang masih bayi mendapat perhatian khusus dari Habib Shaleh. Manakala melihat si kecil berjalan menghampirinya, Habib Shaleh pun berkata dengan lembut,
“Selamat datang, pewaris Sirr (hikmah kebijaksanaan) Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas.” (al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas, kakeknya, adalah penyusun Ratib al-‘Atthas yang sangat termasyhur).
Lalu Habib Shaleh mengangkat anak kecil itu untuk di boncengkan di kuda tunggangannya.

Sejak usia lima tahun, Habib Ahmad sudah belajar mengaji kepada kakeknya yang lain, al-Habib ‘Abdullah. Setelah itu ia belajar ilmu agama kepada Faraj bin ‘Umar Sabbah, salah seorang murid Habib Hadun bin ‘Ali bin Hasan al-‘Atthas, dan Habib Sholeh bin ‘Abdullah al-‘Atthas, yang juga termasyhur sebagai ulama.

Seperti kebanyakan para ulama asal Timur Tengah, Habib Ahmad juga memiliki daya ingat luar biasa. Beliau mampu menghafal sesuatu hanya dengan sekali dengar. Setiap kali ada ulama datang ke Huraidhah, beliau selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menimba ilmu dari mereka,
“Aku selalu menghormati dan mengagungkan para ulama salaf yang datang ke kotaku,” kata beliau.

Semua makhluk memang memiliki mata yang mampu melihat, memandang, mengamati, tapi hanya hamba Allah yang di persiapkan oleh Allah SWT untuk dekat dengan-Nya yang mendapat anugerah mata hati (bashirah).

Cerita al-Habib ‘Umar bin Muhammad al-‘Atthas mengenai karamah Habib Ahmad sangat menarik.
“Ketika masih kecil, aku suka bermain dengan Habib Ahmad di jalanan. Usia kami sebaya. Ketika itu aku sering mendengar orang-orang memperbincangkan kewalian dan mukasyafah (kata benda untuk Kasyaf, kemampuan melihat hal-hal yang tidak kasat mata) Habib Ahmad. Namun, aku belum pernah membuktikannya,” katanya.

“Suatu hari aku berusaha membuktikan cerita orang-orang itu. Jika ia seorang wali, aku akan membenarkannya, tapi jika hanya kabar bohong, aku akan membuatnya menderita. Kami menggali lubang lalu kami tutup deogan tikar. Setelah tiba saat bermain, aku mengajak Habib Ahmad berlomba lari. Ia kami tempatkan di tengah tepat ke arah lubang itu. Ajaib…!!! Ketika sudah dekat dengan lubang itu, ia melompat seperti seekor Kijang. Awalnya kami kira kejadian ini hanya kebetulan. Kamipun mengajaknya berlomba lagi. Tapi, ketika sampai di depan lubang, ia melompat lagi. Ketika itu kami sadar bahwa ia memang bukan manusia biasa,” kata Habib ‘Umar lagi.

Ketika berusia 17 tahun, Habib Ahmad menunaikan ibadah haji. Kedatangannya di Makkah di sambut oleh al-Allamah Mufti Haramain, as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang menganjurkannya untuk menuntut ilmu al-Qur’an kepada seorang ulama besar di Makkah, Syaikh ‘Ali bin Ibrahim as-Samanudi. Setelah hafal al-Qur’an, Habib Ahmad mempelajari berbagai jenis gaya Qiraat al-Qur’an.

Ketika membuka taklim di Masjidil Haram, as-Sayyid Zaini Dahlan memberi kesempatan kepada Habib Ahmad untuk membacakan hafalan al-Qur’an-nya. Mereka memang sangat akrab, sering berziarah ke berbagai tempat bersejarah di Makkah dan Madinah. Pada 1279 H/sekitar 1859 M, ketika usia beliau 22 tahun, Habib Ahmad pulang dan mengajar serta berdakwah di Hadramaut.

Berkhalwat di Huraidhah
Guru yang berjasa mendidik Habib Ahmad bin Hasan al-‘Atthas antara lain:

  • al-Habib Abu Bakar bin ‘Abdullah al-‘Atthas.
  • al-Habib Shaleh bin ‘Abdullah al-‘Atthas.
  • al-Habib Ahmad bin Muhammad bin ‘Alwi al-Muchdhar.
  • al-Habib Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Idrus al-Bar.
  • al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Umar bin Segaf as-Seggaf.
  • al-Habib Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin ‘Abdillah as-Seggaf.
  • al-Habib Muhammad bin Ibrahim bin Idrus Bilfaqih.
  • Sementara guru-gurunya dari Makkah dan Madinah adalah:

    • al-Habib Muhammad bin Muhammad as-Seggaf.
    • al-Habib Fadhl bin ‘Alwi bin Muhammad bin Sahl Maula Dawilah.
    • as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.
    • Sedangkan kitab-kitab yang beliau pelajari (lewat pendengaran), dengan bimbingan Habib Shaleh bin Abdullah al-‘Atthas antara lain, Idhahu Asrari Ulumil Muqorrobin, ar-Risalatul Qusyairiyyah, as-Syifa’ karya Qodhi ‘Iyadh dan Mukhtashar al-Adzkar karya asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bahraq. Sejak berguru kepada Habib Shaleh, beliau tidak pernah meninggalkan majelis itu, hingga sang wafat pada 1279 H/sekitar 1859 M.

      Pada 1308 H/kurang lebih 1888 M ketika berusia 51 tahun, beliau berkunjung ke Mesir di temani empat muridnya, Syaikh Muhammad bin Awudh Ba Fadhl, Abdullah bin Shaleh bin Ali Nahdi, Ubaid Ba Flai’ dan Sayid Muhammad bin Utsman bin Yahya Ba Alawi. Beliau di sambut oleh ulama terkemuka, Umar bin Muhammad Ba Junaid. Selama 20 hari di Mesir beliau sempat mengunjungi Syaykhul Islam Muhammad al-Inbabiy dan beberapa ulama termasyhur lainnya di Kairo.

      Beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rosul Allah SAW, beribadah Umrah ke Makkah lalu menuju Jeddah, Aden, Mukalla, kemudian pulang. Pada 1321 H/sekitar 1901 M, ketika berusia 64 tahun beliau berkunjung ke Tarim dan singgah di Seiwun untuk bertemu dengan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, penyusun Maulid Simtud Duror. Ketika itu Habib Ali minta agar Habib Ahmad memberikan ijazah kepada hadirin.

      Pada usia 68 tahun, sekali lagi ia menunaikan ibadah Haji, sekalian berziarah ke makam Rosul Allah SAW. Pulang dari Tanah Suci, beliau banyak berkhalwat di Huraidhah. Menghabiskan sisa-sisa usia untuk beribadah dan berdakwah. Beliau wafat pada hari Senin malam 6 Rajab 1334 H/kurang lebih 1914 M dalam usia 77 tahun.

      Banyak murid Habib Ahmad yang di belakang hari berdakwah di Indonesia. Seperti, al-Habib Ali al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), al-Habib Syekh bin Salim al-‘Atthas (Sukabumi, Jawa Barat), al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf (Gresik, Jawa Timur), al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy (Malang, Jawa Timur) dan lain-lain.

      Di sarikan dari buku Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan al-‘Atthas, karya Habib Novel Muhammad al-‘Aydrus, Putera Riyadi, Solo, 2003.*

Doa Tawasul Mujarab-Kalam al-Habib Abu Bakar as-Seggaf Gresik

al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf, Gresik :
“Qosidah al-Habib ‘Abdullah al-Haddad yang awalnya Yaa Robbi Yaa ‘Aalimal Haal sangat mujarab. Tidaklah seseorang bertawasul dalam segala urusannya dengan qosidah tersebut kecuali pasti mendapat ijabah dari Allah Ta’laa dan ini sangat mujarab. Pernah turun penyakit di kota Gresik sejenis angin yang menyebabkan banyak orang berjatuhan, bahkan menyebar hingga dekat daerah Kampung Arab dan perkampungan para muslimin. Kemudian datang seseorang mengabarkan kepadaku atas apa yang terjadi sedang aku masih di tengah-tengah majelis maka dengan segera aku perintahkan pada Munsyid (pembaca qosidah) agar membaca qosidah tersebut sebagai tawasul agar di angkat dan di lapangkan perkara yang penting ini serta penyakit yang menimpa mereka maka seketika itu juga setelah selesai bertawasul dengan qosidah itu terangkatlah penyakit tersebut dan mendapat keselamatan serta kesembuhan.”

Sumber: Sumber Facebook
Klik juga disini Mutiara Mutiara Hikmah al-Habib Abu Bakar as-Seggaf Gresik

Mutiara-Mutiara Hikmah al-Habib Abu Bakar as-Seggaf Gresik

al-Habib Abu Bakar as-Seggaf, Gresik

“Ketahuilah, baju kalian yang mengenalkan kalian, yang mana jalan yang baik dan yang mana jalan yang buruk. Sebagai contoh: Kalian jika memakai pakaian para salaf kalian, apakah kalian akan masuk ke tempat orang yang lupa kepada Allah…? Tidak mungkin…!!! Jadi, yang mencegah kalian duduk dengan mereka adalah baju. Sedangkan jika kalian pakai pakaian selain pakaian salaf kalian dan kalian meninggalkan perangai mereka, lalu kalian melewati Majelis Ilmu atau Rauhah, apa kalian akan hadir dan masuk ke majelis-majelis mereka…? Tidak mungkin…!! Dan, yang menjadi penyebab penghalang kalian pada tempat yang baik adalah baju.” Continue reading