Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (133)


Mendengar seruan tersebut seluruh penduduk Mahsyar menundukkan kepala-kepala mereka. Siapakah gerangan yang mampu menundukkan kepala seluruh makhluq dan memejamkan mata-mata mereka, karena rasa mengagungkan dan penghormatan, dialah Fathimah bint Nabi Muhammad Saw. Maka ia pun melewati seluruh makhluq dengan penuh kewibawaan, kehormatan, keagungan, yang di sertai dengan Ummat yang sangat banyak di antaranya adalah para pecintanya dan anak cucunya.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’alaa menjadikan kita semua juga semua para pembaca dan para pendengarnya termasuk orang-orang yang berada dalam rombongan yang mulia tersebut juga termasuk orang-orang yang dapat meminum dari telaga Rosulullah Shallallahu ‘Alayh Wa Sallamserta orang-orang yang di masukkan ke dalam Syurga yang penuh kenikmatan. Aamiin.. Aamiin.. Aamiin.. Yaa Robbal ‘Aalamiin…..

SELESAI

Penulis: al-Habib Abdul Qodir Ba’abud.

Advertisements

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (132)

Hari-hari Fathimah telah selesai dan terputus, akan tetapi keberkahannya tidak sedikitpun berkurang. Kebaikannya tetap kekal, kenangan sejarah kehidupannya tak pernah habis.

Kami telah menceritakan sejarah az-Zahro’ al-Batuul, mudah-mudahan kita semua dapat mengambil faedah darisejarah tersebut. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil ibroh dan manfaat. Bisa mengambil sebuah pemahaman serta mencicipi dan merasakan apa yang ada di dalamnya yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita dan anak-anak kita serta memberikan manfaat pada kita di dunia dan akherat.

Yang kita saksikan ini adalah kehidupan Fathimah di dunia, akan tetapi nanti di Qiyamat nanti sangat agung dan tinggi yang di hiasi kemuliaan dan kehaibaan.

Sebagaimana di riwayatkan oleh Rosulullah SAW, “Jika datang nanti hari Qiamat maka akan ada seruan dari dalam ” ‘Arsyi” ; ‘Wahai semua penduduk Mahsyar tundukkan kepala-kepala kalian dan pejamkan mata-mata kalian karena Fathimah putri Muhammad akan segera melewati jembatan Siroth dan akan memasuki Syurga.”

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (131)

Ia meninggalkan keturunan yang suci. Ia meninggalkan sebuah cahaya dan penerang bagi ummat ini. Ia meninggalkan para petunjuk. Ia meninggalkan para penda’i. Ia meninggalkan para penerang dunia sampai hari ini dengan cahaya mereka. Ini semua adalah berkah Sayyidatuna Fathimah, mereka adalah keturunan dan anak cucu Fathimah. Yang mana mereka telah mendapat doa dari Rosulullah Shallallahu ‘Alayh Wa Sallam agar di beri keturunan yang banyak dan selalu di sertai kebaikan yang menjadi petunjuk bagi orang yang mengharap petunjuk.
Mereka seperti perahu keselamatan milik Nabi Nuh As. Mereka laksana bintang-bintang yang menjadi petunjuk manusia dalam kesesatan dan kegelapan malam. Mereka adalah penyelamat. Mencintai mereka adalah asas agama ini dan membenci mereka adalah penyebab kekufuran. Mudah-mudahan kita dimjauhkan dari sifat-sifatyang menyebabkan kekufuran.

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (130)

Sayyidatuna Fathimah juga berkata,”Jika kau ingin menguburkan aku, maka kuburkan aku di malam hari.”

Kita lihat, Sayyidatuna Fathimah selalu mencari ketawadlu’an..! ! Selalu mencari dan mencintai hal-hal yang menutup atas apa yang ada pada dirinya dengan di sertai rasa malu dan rendah hati..!! Karena ini adalah perangai Sang Ayah Saw.

Kehidupan Sang Bungapun telah habis dan kini saatnya kembali pada Sang Pencipta juga mendampingi Sang Ayah SAW. Sang bunga telah menjalani hidupnya 29 tahun. Alangkah agungnya tahun-tahun yang telah ia lalui. Kita seolah-olah sedang memperbincangka n sebuah abad. Seolah-olah kita memperbincangkan seorang yang memiliki banyak jiwa akan tetapi ia hanya seorang wanita, yang sabar menahan dan mengemban segala macam kesusahan dan kesedihan juga dipenuhi perjuangan, di penuhi ilmu, di penuhi cahaya, di penuhi sir. Seorang wanita yang telah meninggalkan sesuatu yang sangat agung bagi ummat ini, ia telah meninggalkan “Ahlu Bait Rosulillah.”

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (129)

Sayyidatuna Fathimah sangat ingin jika kedua anaknya ini Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain berada dalam didikan Sayyidatuna Umamah juga anak-anak perempuannya yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Yang mana Sayyidatuna Fathimah memiliki dua anak perempuan yang bernama Zainab dan Ummu Kultsum. Seolah-olah Nabi Saw memberi nama putri-putri Fathimah dengan nama Zainab dan Ummu Kultsum. Yang mana Sayyidatuna Fathimah sering kali mencium kedua putrinya karena mereka berdua mengingatkan pada kakak-kakaknya. Jika kita kenang mereka para putri-putri Rosul Allah Saw, tergetar hati kita..!! Sungguh rumah tangga yang penuh perjuangan dalam jalan Allah..!!

Kita lihat sekarang, Sayyidatuna Fathimah tengah dalam sebuah suasana perpisahan. Kemudian ia berkata, “Wahai Ali, jika aku telah meninggal mandikanlah aku dan jangan sampai adayang ikut memandikanku selain engkau.”
Maka Sayyidina Ali pun memandikan Sayyidatuna Fathimah yang di sertai Asma’ bint Umais, Istri Sayyidina Ja’far (Saudara Sayyidina Ali)

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (128)

Kemudian Sayyidatuna Fathimah memanggil Sayyidina Ali ibn Abi Tholib Kw dan mewasiatkan kepadanya 3 perkara. Berkata Sayyidatuna Fathimah,”Wahai suamiku Ali, aku merasa ajalku telah dekat. Sebentar lagi aku akan menyusul ayah dan ibuku.”

Sayyidina Ali pun tersentuh hatinya dengan penuh kesedihan, air mata Sayyidina Alipun telah menggenang di kelopak matanya, menggenggam tangan Fathimah dan menahan dirinya atas rasa yang sangat menyedihkan dan menyakitkan ini. Yang mana Sayyidina Ali baru saja di pedihkan atas meninggalnya Rosulullah SAW dan sekarang di timpa kesedihan atas meninggalnya Fathimah, istri tercinta. Sangat sulit dan berat sekali terasa di hati Sayyidina Ali, akan tetapi ini semua taqdir dan ketentuan Allah SWT. Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain pun menangis, kedua bocah kecil ini menangis atas kepergian Sang Bunda.

Sayyidatuna Fathimah berkata pada Sayyidina Ali, “Aku wasiatkan padamu, jika aku telah meninggal, menikahlah dengan Umamah putri saudariku Zainab.”
Setelah meninggal, Sayyidina Ali menikahi Sayyidatuna Umamah akan tetapi tidak mendapat anugerah anak satu pun.

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (127)

Kita lihat, sampai sebegininya Sayyidatuna Fathimah memiliki rasa malu. Lalu mana wanita zaman sekarang..? Apakah mereka mendengar akan hal ini..? Apakah mereka faham makna dari rasa malu ini..?

Wahai para wanita yang telah kehilangan rasa malu, ketahuilah…! Sayyidatuna Fathimah sangat takut dan merasa sangat malu jika bentuk tubuhnya nampak walaupun beliau telah terbungkus kain kafan yang berlapis-lapis.

Wahai para wanita yang mengaku cinta kepada Sayyidatuna Fathimah..
Wahai wanita yang mengaku ingin masuk dalam rombongan Sayyidatuna Fathimah nantinya..
Coba lihat diri anda dimana dan Sayyidatuna Fathimah dimana…? Akankah anda meniru budaya perempuan kafir yang dengan bangga memperlihatkan bentuk tubuhnya di depan laki-laki yang bukan mahramnya, lalu anda tanggalkan budaya agung pemimpin anda..? Tanyakan pada hati anda dan resapi..!

Berkata Sayyidatuna Asma’, “Wahai Putri Rosulullah SAW, aku pernah melihat di negeri Habasyah, mereka membuat keranda yang terbuat dari kayu untuk mayyit atas kadar si mayyit yang di atasnya di tutup kain yang dapat menutupnya dan berbentuk seperti qubah, sehingga dapat menutup bentuk tubuh si mayyit.”
Mendengar hal ini, Sayyidatuna Fathimah sangat amat senang sekali, seraya berkata, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Asma’, untuk membuatkannya seperti itu untuk jasadku.”

Fathimah sangat senang, tersenyum kini Sang Bunga..

Bersambung