Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (130)

Sayyidatuna Fathimah juga berkata,”Jika kau ingin menguburkan aku, maka kuburkan aku di malam hari.”

Kita lihat, Sayyidatuna Fathimah selalu mencari ketawadlu’an..! ! Selalu mencari dan mencintai hal-hal yang menutup atas apa yang ada pada dirinya dengan di sertai rasa malu dan rendah hati..!! Karena ini adalah perangai Sang Ayah Saw.

Kehidupan Sang Bungapun telah habis dan kini saatnya kembali pada Sang Pencipta juga mendampingi Sang Ayah SAW. Sang bunga telah menjalani hidupnya 29 tahun. Alangkah agungnya tahun-tahun yang telah ia lalui. Kita seolah-olah sedang memperbincangka n sebuah abad. Seolah-olah kita memperbincangkan seorang yang memiliki banyak jiwa akan tetapi ia hanya seorang wanita, yang sabar menahan dan mengemban segala macam kesusahan dan kesedihan juga dipenuhi perjuangan, di penuhi ilmu, di penuhi cahaya, di penuhi sir. Seorang wanita yang telah meninggalkan sesuatu yang sangat agung bagi ummat ini, ia telah meninggalkan “Ahlu Bait Rosulillah.”

Bersambung

Advertisements

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (129)

Sayyidatuna Fathimah sangat ingin jika kedua anaknya ini Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain berada dalam didikan Sayyidatuna Umamah juga anak-anak perempuannya yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Yang mana Sayyidatuna Fathimah memiliki dua anak perempuan yang bernama Zainab dan Ummu Kultsum. Seolah-olah Nabi Saw memberi nama putri-putri Fathimah dengan nama Zainab dan Ummu Kultsum. Yang mana Sayyidatuna Fathimah sering kali mencium kedua putrinya karena mereka berdua mengingatkan pada kakak-kakaknya. Jika kita kenang mereka para putri-putri Rosul Allah Saw, tergetar hati kita..!! Sungguh rumah tangga yang penuh perjuangan dalam jalan Allah..!!

Kita lihat sekarang, Sayyidatuna Fathimah tengah dalam sebuah suasana perpisahan. Kemudian ia berkata, “Wahai Ali, jika aku telah meninggal mandikanlah aku dan jangan sampai adayang ikut memandikanku selain engkau.”
Maka Sayyidina Ali pun memandikan Sayyidatuna Fathimah yang di sertai Asma’ bint Umais, Istri Sayyidina Ja’far (Saudara Sayyidina Ali)

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (128)

Kemudian Sayyidatuna Fathimah memanggil Sayyidina Ali ibn Abi Tholib Kw dan mewasiatkan kepadanya 3 perkara. Berkata Sayyidatuna Fathimah,”Wahai suamiku Ali, aku merasa ajalku telah dekat. Sebentar lagi aku akan menyusul ayah dan ibuku.”

Sayyidina Ali pun tersentuh hatinya dengan penuh kesedihan, air mata Sayyidina Alipun telah menggenang di kelopak matanya, menggenggam tangan Fathimah dan menahan dirinya atas rasa yang sangat menyedihkan dan menyakitkan ini. Yang mana Sayyidina Ali baru saja di pedihkan atas meninggalnya Rosulullah SAW dan sekarang di timpa kesedihan atas meninggalnya Fathimah, istri tercinta. Sangat sulit dan berat sekali terasa di hati Sayyidina Ali, akan tetapi ini semua taqdir dan ketentuan Allah SWT. Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain pun menangis, kedua bocah kecil ini menangis atas kepergian Sang Bunda.

Sayyidatuna Fathimah berkata pada Sayyidina Ali, “Aku wasiatkan padamu, jika aku telah meninggal, menikahlah dengan Umamah putri saudariku Zainab.”
Setelah meninggal, Sayyidina Ali menikahi Sayyidatuna Umamah akan tetapi tidak mendapat anugerah anak satu pun.

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (127)

Kita lihat, sampai sebegininya Sayyidatuna Fathimah memiliki rasa malu. Lalu mana wanita zaman sekarang..? Apakah mereka mendengar akan hal ini..? Apakah mereka faham makna dari rasa malu ini..?

Wahai para wanita yang telah kehilangan rasa malu, ketahuilah…! Sayyidatuna Fathimah sangat takut dan merasa sangat malu jika bentuk tubuhnya nampak walaupun beliau telah terbungkus kain kafan yang berlapis-lapis.

Wahai para wanita yang mengaku cinta kepada Sayyidatuna Fathimah..
Wahai wanita yang mengaku ingin masuk dalam rombongan Sayyidatuna Fathimah nantinya..
Coba lihat diri anda dimana dan Sayyidatuna Fathimah dimana…? Akankah anda meniru budaya perempuan kafir yang dengan bangga memperlihatkan bentuk tubuhnya di depan laki-laki yang bukan mahramnya, lalu anda tanggalkan budaya agung pemimpin anda..? Tanyakan pada hati anda dan resapi..!

Berkata Sayyidatuna Asma’, “Wahai Putri Rosulullah SAW, aku pernah melihat di negeri Habasyah, mereka membuat keranda yang terbuat dari kayu untuk mayyit atas kadar si mayyit yang di atasnya di tutup kain yang dapat menutupnya dan berbentuk seperti qubah, sehingga dapat menutup bentuk tubuh si mayyit.”
Mendengar hal ini, Sayyidatuna Fathimah sangat amat senang sekali, seraya berkata, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Asma’, untuk membuatkannya seperti itu untuk jasadku.”

Fathimah sangat senang, tersenyum kini Sang Bunga..

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (126)

Setelah kepergian sang ayah, tidak ada sedikitpun dalam hati Sayyidatuna Fathimah keinginan untuk tetap berada di dunia. Yang mana ia juga telah mendapat kabar gembira bahwa ia adalah anggota keluarga yang pertama kali menyusul Sang Ayah SAW.

Maka tidaklah lewat 6 bulan dari wafatnya Rosulullah SAW, kecuali sakit yang di rasa Sayyidatuna Fathimah semakin parah. Sayyidatuna Fathimah terkapar di tempat tidurnya.

Terdengar tangisan Sang Bunga di tengah hembusan angin dan di gelapnya malam. Melihat hal itu, Sayyidatuna Asma’ berseru, “Wahai Putri Rosulullah SAW, hal apa yang telah membuatmu menangis…?”
Sayyidatuna Fathimah menjawab, “Aku menangis karena merasa sedih atas apa-apa yang di lakukan orang-orang terhadap jenazah seorang wanita. Hanya terbungkus kain kafan lalu di bawanya dalam keadaan nampak bentuk tubuhnya.”

Sayyidatuna Asma’ pun berkata,”Subhanallah..! ! Sangat agung sekali ayahmu dalam mendidikmu dengan rasa malu yang sangat kuat. Kau malu jika jasadmu nanti terlihat di hadapan laki-laki yang bukan muhrimmu…!!!”

Mari kita lihat..!! Sayyidatuna Fathimah merasa takut dan sangat malu jika beliau telah meninggal nanti hanya di bungkus dengan kain kafan, yang dapat menampakkan bentuk tubuhnya..

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (125)

Fathimahpun tertimpa kesusahan yang tidak pernah di rasakan oleh orang lain. Wajah cantiknya tidak lagi nampak tersenyum manis sama sekali setelah kepergian sang ayah. Yang mana Fathimah sangat murah senyum sebagaimana ayahnya Shallallahu ‘Alayh Wa Sallam. Akan tetapi sepeninggal ayahnya, senyum itu tak pernah nampak lagi.

Sakit Sayyidatuna Fathimah bertambah berat, jantungnya terasa tercincang-cinc ang, hatinya terbakar oleh rindu kepada Rosulullah SAW. Yang mana Fathimah masih sangat muda di umurnya yang ke-29. Akan tetapi di umur yang sangat muda ini, berapa banyak beliau mengemban beban..? Berapa banyak beliau telah bersabar..?
Mengemban beban rasa pahit mulai umur 5 tahun. Di umur itu ia mulai bermujahadah, ia mulai mengemban beban yang berat, mendapat kesusahan. Berapa banyak pahitnya kehidupan yangia rasakan dengan penuh kesabaran….?

Bersambung

Manaqib Sayyidatuna Fathimah al-Batuul (124)

Sayyidatuna Fathimah berusaha menghimpun seluruh perasaannya yang tercabik-cabik. Ia berusaha berjuang dengan melangkah yang teramat berat untuk mendekati kuburan ayahandanya tercinta, Rosul Allah Shallallahu ‘Alayh Wa Sallam.

Setelah berada di sisinya, ia menggenggam sekepal tanah dari kuburan itu untuk di dekatkannya ke matanya yang sembab karena banyaknya menangis. Lalu menciuminya dan berkata dengan lirih:
“Kemuliaan apakah yang dapat menandingi orang yang mencium tanah Ahmad..?
Sepanjang kehidupannya, takkan pernah ia dapatkan lagi kemuliaan yang semisalnya..
Aku telah tertimpa musibah, yang mana jika tertimpa pada terangnya hari akan merubahnya menjadi gelapnya malam..”

Kemudian Fathimah melantunkan,
“Langitpun di penuhi debu..
Sang mataharipun tergelincir..
Seluruh jagat di penuhi kegelapan..
Dan bumi menjadi berduka setelah perginya Sang Nabi..
Sebagai bukti penyesalan atas banyaknya goncangan musibah..
Maka menangislah wahai penduduk timur dan barat..
Dan menangislah engkau wahai kaum Muhdlor dan Yamani..
Wahai penutup para Rosul yang cahayamu penuh keberkahan..
Semoga sholawat serta salam Sang Penurun al-Qur’an selalu menyertaimu.. “

Bersambung